Senin, 03 September 2012

teater

Sumber: Majalah Seni Budaya Alur, Edisi Juli 2012


Teater Pemberdayaan:
Kemerdekaan Bagi Mantan Napi Anak

Oleh S JAI*)




“Bebas lepas. Tanpa Beban. Aku merdeka.”

EMPAT pemain melantunkan lirik ini, tanpa aturan nada tertentu.  Mereka saling  bergantian bernyanyi. Kadang dengan kasar, seringkali juga kocak. Lantas mereka—Eko  (18), Fredi (18), Musthofa (23) dan Wahyu (21)—saling mengisahkan pahit getir dirinya selama menghuni Lapas Anak. Ingatan paling menyiksa yang dilakoni tiap hari oleh mereka adalah ketika di teras langgar menyaksikan rekan-rekannya dibezoek keluarganya.

Sebaliknya, selama di penjara tak seorang pun manusia yang peduli pada keempat anak ini. Mereka merindukan ibundanya, juga “kekasih”—nya dan memuntahkan emosinya begitu mendapati kemerdekaan selepas dari tahanan hanyalah kegetiran hidup lainnya.



Itu terjadi di panggung teater  Maha Ibu oleh teater Shelter Rumah Hati, yang disutradarai Zainuri Rabu (4/4) lalu di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Surabaya.  Eko, Fredi, Musthofa dan Wahyu bermain di panggung berseting empat tangga yang digantung menuju arah langit. Simbol yang jelas berkait erat dengan tujuan atau citacita—sebuah kata kunci yang tak asing bagi setiap aktivitas pemberdayaan.

Di atas kertas, Eko dan Fredi masih terhitung anak dan semestinya di bawah perlindungan orangtua, keluarga, masyarakat dan negara  (pasal 52 UU 39/1999). Sebagai anak juga punya hak untuk istirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, dan berkreasi sesuai minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri (pasal 11 UU 23/ 2002).

Musthofa dan Wahyu tak bisa lagi disebut anak. Namun justru ia memiliki beban  besar di luar pasal-pasal hukum,  bukan hanya selepas dari lapas anak dijerat lagi dan  “dihukum”  masyarakat. Keduanya seolah diluar jangkauan hukum dan menghadapi alam baru kedewasaannya—yang jauh lebih menuntut kekuatannya.

Di bawah dampingan Shelter Rumah Hati, proses teater buat mereka adalah proses belajar memimpin diri sendiri, memberdayakan diri melalui media paling ampuh: komunikasi.  Mereka merancang bangun gambaran mengenai sesuatu yang baik, idealisme, cita-cita yang bermakna. Di situlah para eks tahanan ini mengembangkan etika kreatif, menghormati, menghargai sesama kawan yang belajar, menumbuhkan keyakinan pada sesuatu yang benar untuk dunianya yang dibangunnya dengan lebih baik, menerbitkan kepekaan, empati dengan melayani orang lain, tak berburuk sangka, apalagi memaksakan kehendak sendiri. Mereka bersentuhan dengan keberanian, kesabaran, pengabdian, ketekunan, rendah hati dengan rasa hormat pada keberagaman orang lain.

Mereka adalah eks tahanan yang beruntung karena dirinya sungguh penting dalam teater. Ia dihargai idenya, imajinasinya, naskah buatannya sendiri. Mungkin dia bukan aktor. Tetapi mereka memiliki spirit sebagai aktor, khususnya dalam memerankan dirinya sendiri.  Bukankah teater menurut Rendra justru yang bersifat spirituil?

Mereka beruntung karena bisa mengasah daya asosiasi, panca indera,  juga improvisasi yang menyiapkan dirinya tangkas pada lingkungan dan giras bekerja. Dan itu dilakukannya dengan penuh kesadaran diri akan kekuatan dirinya. Mungkin Eko, Fredi, Musthofa dan Wahyu bukan aktor. Namun pada teater yang dimainkkannya mereka bisa menumbuhkan kepercayaan diri, bahkan dalam kesulitan paling muskil bisa mendorong diri tanpa bertumpu pada harapan orang lain. Inilah sebenarnya kemerdekaan.

Mereka telah menjaga kemerdekaan itu, menjaga integritas perbuatan dan hati nuraninya. Mereka telah tahu kemerdekaan bisa lepas darinya bila tak dijaganya.  Maka, mungkin mereka bukan aktor, namun teater Maha Ibu telah mempertegas hakekat  yang disebut  Rendra 32 tahun lalu sebagai “usaha untuk mempertahankan intrinsik kemanusiaan.”  Teater Maha Ibu juga telah menangkap kembali keyakinan Suyatna Anirun, bahwa teater untuk menemukan manusia.

***

PERTUNJUKAN berdurasi 55 menit itu mengisahkan kehidupan Eko, Fredi yang dipenjara 3,5 bulan karena mencuri bor. Keduanya sempat dihajar massa 3 kampung di Jombang. Saat diseret ke balai desa pun tak ada aparat desa yang mencegah.  Musthofa masuk hotel prodeo lantaran dituduh memperkosa. Di kantor polisi, ia malah menjadi bulan-bulanan puluhan polisi. Walau visum dokter tak memberi bukti perkosaan, Musthofa dikenakan hukuman pencabulan dan mendekam 5 tahun di penjara. Nasib yang sama terjadi pada Wahyu.

“Sesakit apapun kita tidak akan mati, sesakit apapun kita tidak akan sakit. Kalau kita sakit dan mati, setidaknya sudah dari dulu-dulu, ketika kita dikeroyok orang, ketika kita dihajar masa, ketika kita difitnah orang, dan ketika kita dipenjara. Biarkan apa yang dimaui hidup ini. Kesenangan kita sebagai anak terlalu sedikit. Ayoo…. kita tertawakan saja hidup ini, karena kita tak pernah diberi kesempatan…”

Kalimat yang dilantunkan Wahyu ini seakan menyiratkan sublimasi ruh hidup dan spirit mereka. Yakni, keyakinan pada kekuatan manusia. Sebuah sikap berani namun getir.  Tema remeh-temeh kehidupan penjara, juga telah dianjurkan pemikir Foucault  dan sutradara Zainuri telah melakukan itu dengan estetika “mencangkok ruang teater di antara kepanikan publik”-nya sejak melibatkan napi Rutan Medaeng (Rasanya Baru Kemarin, 2010), teater anak-anak bonek mania.

Bahkan pada Rembulan di Atas Kremil (2010),  Zainuri, mempertegas dengan mengatakan teater itu realis dan realis itu teater. Teater adalah cara mengaktualisasikan diri dalam kapasitas peran yang berlebih dan panggung adalah kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teater harus berguna dengan memindahkan ruang estetis dari problem publik ke ruang yang katarsis—pencerahan.

Tampaknya pandangannya tentang teater realis dan realis teater ini mengoreksi gagasan  v-effekt atau “efek keterasingan” Bertolt Brecht.  Meski baik Zainuri dan Brecht sepakat bahwa tugas ilmu pengetahuan dan teater samasama meringankan beban manusia, namun “efek keterasingan” pada Brecht dengan menanggalkan yang dimiliki aktor agar tak terjadi trance, justru pada aktor-aktor teater Zainuri mutlak melibatkan dirinya sendiri. Aktor harus mengalami trance, pencerahan, khatarsis secara bersama.

Jelas ini adalah problem psikologis dalam teater Zainuri yang tampaknya ini berarti mengubah pandangan Carl Gustav Jung tentang ketaksadaran bersama, tentang mitos-mitos yang menguasai kita. Jikapun oleh ahli-ahli psikologi, teater ini disebut sebagai teater terapi, sebagaimana diungkap Prof Dr Yusti Probowati R, ketua proyek Shelter Rumah Hati, tentu terapi dalam pengertian efek domino ketakadanya harmoni id, ego, superego Sigmund Freud. Teater sebagai laku pelepasan schizophrenia demi meledakkan energi baru manusia. Yaitu teater yang bisa membuka, menjunjung dan merangkai kehidupan manusia yang tersingkir atau terlupakan untuk dijadikan awal kebangkitan hidupnya.

Lalu teater adalah cara ideal sebagai laku terapi. Sutradara sebagai ahli psikopatologi, aktor-aktor diantara mereka sendiri menjadi dokter bagi dirinya sendiri, sebelum pada akhirnya publik adalah ahli-ahli terapi dalam peristiwa teater baik buat pertunjukan maupun diri mereka sendiri.

Artinya, menampilkan sisi gelap hidup mereka pada mulanya adalah trauma. Lalu sejauhmana trauma dikelola menjadi energi positif untuk tidak saja sebagai suatu penyadaran, pendidikan. Melainkan juga demi menemukan diri puncak-puncak realitas hidup yang segar dan baru—baik dari sisi kejiwaan maupun tata nilai diantara mereka sendiri.

Bahwa kesadaran bisa ditempuh dengan menggali trauma mereka sendiri atau memberikan pengetahuan, melalui komunikasi. Sebagaimana kata Jung, pengakuan atas sisi gelap manusia ini sangat penting kalau kita ingin mencapai kepenuhan integritas diri dan bertindak secara lebih realitis.

Dengan membocorkan diri tentang ruang gelap, dosa, kejahatan, keburukan masa lalu dalam batin manusia, maka hal itu berarti aktif menciptakan kondisi ektrem manusia tanpa lebih dulu harus ditekan dan pojokkan. Cara itu ditempuh guna mengenali diri secara lebih dahsyat yang pada gilirannya menumbuhkan rasa percaya diri sebagai manusia menjalani fitrahnya, mampu menempatkan konflik lebih proporsional, dan pelaku  mengalami proses penurunan ketegangan dan lebih toleran pada diri dan lingkungannya.

***

BOLEH jadi ketika Eko, Fredi, Musthofa, Wahyu mencari ibunya, sebetulnya adalah upaya untuk menatap pelbagai citra realitas masa depan—ruh ibu, kemerdekaan, keadilan, kasih sayang, cinta, juga kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kredo Zainuri bahwa  “panggung teater realis itu harapan kita, sedang realis teater penataan kembali kehidupan kita,” mengarah pada gagasan itu.

Kita pun, penonton,  juga publik di negeri ini rasanya juga telah lama kehilangan sosok ibunda.

“Ibu, aku wis metu teko penjara, tapi kenek opo pingin ketemu sampean ae kok angel—Ibu aku telah keluar dari penjara, tapi kenapa ingin berjumpa denganmu begitu susahnya.[] 


*) Peminat teater, Divisi Pelatihan dan Advokasi  WYDII, Surabaya