Selasa, 03 Desember 2013

Sosok

Tiga Menguak Tabir





PUISI menurut saya adalah teman berbincang. Dengannya kita bisa bercengkerama tentang apa saja, melakukan pengakuan-pengakuan dan saling bertelanjang.,” ungkap penyair F Aziz Manna kepada Alur.


F Aziz Manna, penyair lulusan Sejarah dari FIB Unair itu baru-baru ini memenangkan sayembara menulis buku puisi dari Dewan Kesenian Jawa Timur. Ia juga menulis buku puisi Wong Kam Pung, Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang.

Penyair satu ini  terhitung satu diantara sekian penyair  yang melakukan revolusi jejak kepenyairan Chairil Anwar—sosok ‘presiden’ angkatan 45 yang bersama Asrul Sani, Rivai Apin dan Chairil Anwar  menyusun Tiga Menguak Takdir, sebuah buku kumpulan syair yang diterbitkannya di Jakarta.

Tapi Aziz, kini di Surabaya dan hidup di zaman pasca-modern. Bersama dua penyair lainnya,  berkumpul dalam satu komunitas Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) di Surabaya, tengah menguak tabir kepenyairan mereka.

Ya, mereka punya takdir yang berbeda, meski sama-sama menguak tabir masing-masing dalam dunia kepenyairan: F Aziz Manna, Indra Tjahyadi dan Mashuri.

Tapi sebenarnya dalam hidup keseharian,” tutur Aziz,  “Saya adalah seorang penyendiri. Bagi seorang penyendiri seperti saya, kawan terkadang malah menyusahkan dengan kecerewetan-kecerewetannya dan kadang pula tak diperlukan. Lalu mengapa saya terus saja bercengkerama dengan puisi? Mungkin bukan saya, tapi puisi yang mengajak saya.”

Memang dalam hal merevolusi puisi,  amat menarik menelisik sudut pandang “kami” yang dipakai penyair F Aziz Manna dalam hampir keseluruhan sajak-sajak yang terkumpul Siti Surabaya, dan Kisah Para Pendatang, November 2010.

Lihat salah satu sajaknya berjudul Jagir berikut: …kau anggap kami pengganggu, perusuh, kau perlakukan kami seperti benalu, seperti panu, kau siram kami dengan siksa agar segera musnah, kau pangkas, kau gosok-gesek dengan ampelas agar nampak halus dan mulus, kehadiran kami bagimu hanyalah pengganggu, perusuh seperti kadas, kudis, kurap, kutil, jerawat, kami laknat dilaknat, tapi akar kami kadung menjalar, liar melingkar-lingkar, akar yang lahir dari kisah perlawanan, penggusuran, pembantaian,…(hal 61)

Boleh jadi ini sebuah revolusi sajak dari suatu pengalaman personal, subjektif yang selama ini telanjur menguasai mainstream sejarah puisi kita, yang puncaknya diteguhkan “aku” kelompok di sekitar Chairil Anwar dan penganutnya. Mata pandang sebagai pisau analisis atau teknik dan metode dalam pergulatan menemukan manusia inilah yang oleh  Aziz Manna direvolusi habis dari “aku” menjadi “kami.”

Meski demikian puisi tetaplah suatu dunia penuh misteri. Sebagaimana misteri penyair ini ketika menulis sajak Lagu Orang Usiran. Menyimak sajak tersebut, terungkap keunikannya,  Aziz Manna seakan menyentil ingatan kita pada Chairil Anwar  tanpa kepastian maksudnya. (Chairil pernah menggunakan judul yang sama saat menterjemahkan sajak WH Auden tentang pengusiran orang Yahudi oleh Hitler).

Dalam sajak Aziz:  tidak ada yang lebih kuat dibanding kami yang tidak memiliki apa-apa, yang terenggut harta bendanya, yang dulunya bernapas di jantung kota lalu terjengkang, tersuruk di pinggiran, di kekumuhan, di mulut-mulut sungai, mulut sungai yang seperti lobang kakus, lobang kakus yang menjulur ke anus-anusmu, anus yang menyemprotkan kotoran ke rumah kami, ke depan meja makan kami.

Kisah-kisah para perempuan perkasa, mengilhami puisi-puisi F Aziz Manna dalam Siti Surabaya.  Karena penyair  ini banyak melakukan penggalian potensi estetik puisinya di sebuah warung di luar pagar kampus Universitas Airlangga, milik Mak Mursinah—salah seorang yang disebut dalam ucapan terimakasih buku kumpulannya. Juga lingkungan seperti itu memang memungkinkan menciptakan tokoh Siti Surabaya dalam sajaknya yang tergencet hingga ke komplek pelacuran pinggiran kota Surabaya. Lihatlah pada sajak-sajak lain seperti Perempuan itu Tak Bisa Menangis, Perempuan Tua Kota Kami.

***
SALAH sebuah puisi F Aziz Manna berjudul Kepada Penyair Indra. Tentu saja yang dimaksud adalah Indra Tjahyadi—salah seorang kontributor gagasan komunitas FS3LP.  Ia penyair yang menulis buku puisi Kitab Syair Diancuk Jaran, Ekspedisi Waktu dan yang paling mutakhir adalah Syair Pemanggul Mayat. Pada buku puisi paling mutakhirnya ini Indra Tjahyadi meneguhkan dirinya  dalam manifesto puisi gelapnya.

“Tugas penyair adalah menyelamatkan manusia. Menyelamatkan manusia dari kejatuhannya yang mengerikan,” katanya.

Betapa dunia sudah semakin banal, dan tak ada jalan keselamatan bagi manusia di dunia sebab segala nila kemanusiaan yang pernah dimiliki oleh manusia telah menuai kejatuhannya. Untuk memperolehnya kembali hanya ada satu cara, satu jalan, yakni ‘maut.’ Ya, hanya mautlah manusia, umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya dapat diselamatkannya dapat diselamatkan dari kejatuhannya.

“Untuk menunaikan tugasnya tersebut seorang penyair tidak dapat bersandar pada dunia sebab dunia telah mengalami kebanalan. Maka jalan yang paling mungkin dilakukan seorang penyair dalam menunaikan tugasnya menyelamatkan manusia adalah dengan menghancurkan dunia.”

Menghancurkan dunia bagi peneguh Manifesto Puisi Gelap, Indra Tjahyadi ini bermakna menggembalikan mengembalikan kemurnian, mengembalikan kemurnian berarti mendekatkan manusia pada surga yang dijanjikan. Dan untuk sampai pada surga yang dijanjikan,manusia harus memahami maut, sebab hanya pada mautlah segala nilai-nilai kemanusiaan dapat dibangkitkan kembali dan manusia terselamatkan dari kejatuhannya yang mengerikan.

“Maka tugas puisi adalah menciptakan makna-makna baru.  Memang hal ini mengakibatkan puisi jatuh dalam kondisi gelap. Kondisi dimana dunia luar puisi dapat menarik makna apa saja atas sebuah puisi ,” tandas alumnus Sastra Indonesia Unair tersebut.

Sebagaimana dalam salah satu bait Kitab Kejahatan Puisi:
Kusimpan diriku dalam gelap tak teraba. Kampung-kampung jadi asing, jadi ganjil dalam ingatan. Tak ada lagi yang bisa ditunggu, bahakn jejak pun Cuma tinggal kabur, tinggal pudar dalam hampa. Tak kunyanyikan lagu kepergian sebab setiap kata senantiasa gagal terucap. Di cermin, sekali lagi kulihat wajahku letih, uzur, Cuma nunggu panggil kehancuran dari kubur.  Aku detak jam yang berhenti di dasar jurang waktu menganga. Kucambuk senyap. Aku terpekur, serupa kejahatan puisi yang kau agungkan dalam setiap suluk dan pilu.

Meski tidak sepenuhnya mengamini ‘kegelapan’ puisi,  rupanya Mashuri penyair yang baru saja meluncurkan Munajat Buaya Darat ini punya jalan lain untuk menyingkap tabir syair. 

“Saya menulis puisi untuk berbagi dengan sesama. Karena berbagi pengetahuan, buah pikiran dan perasaan adalah berbagi yang keren. Berbagi lewat puisi adalah berbagi yang indah,” kata penulis yang juga pengarang novel Hubbu—pemenang sayembara novel DKJ 2006 tersebut.

Ditegaskan Mashuri, dirinya menulis puisi karena dengan berpuisi ia bisa berpikir bebas dan berimajinasi gokil, bisa melanggar tabu, bisa melakukan banyak hal yang mungkin bila dilakukannya di luar kegiatan berpuisi, dirinya bisa disebut ‘gila.’ “Saya punya pandangan, liar dalam berpikir dan berimajinasi adalah sebuah keharusan, asal tidak diwujudkan dalam perilaku,” imbuhnya.

Oleh karena itu, jika ada yang menyangka, karyanya sebagai karya gelap, sekaligus laku edan dalam bersastra, ia pun menganggap Itu hanya satu perspektif sia-sia. Tanda keawaman dan ‘maqam/derajat’ yang masih menapak pada pengetahuan awam dan massal. 

Bagamanapun sebutan ‘gelap’, lanjut Mashuri, telah menjadi marka yang berpalung ambigu. Satu sisi, ia dianggap wilayah samun, berbahaya, penuh ranjau, jebakan, jalan sesat bercecabang, dihuni para hantu. Di sisi lain, ia diberi satu vonis: tak terpahami, ngawur dan selalu diperlawankan dengan benderang.

“Karya gelap adalah harta karun terpendam,” tandasnya. “Karena karya gelap menuntut pembacanya sabar dan berpikir, mengungkai rajutan kalam yang berpusar pada sastra-buta bagi pandangan awam, bawah sadar yang nanar, dan celah jiwa yang terbelah, memori terpenggal, menolak dibaca oleh pembaca yang malas dan manja, mengaburkan fakta-fiksi, dan lain-lainnya,” terangnya.

Maka puisi gelap akan memberi ruang pada karya-karya itu, ide-gagasan, buah pikiran tentang sastra yang berpatok pada satu hal: manusia dan karyanya tidak mudah dipahami. Bahwa puisi gelap akan mendedah karya yang dihasilkan dari intensitas dan integritas menyuntuki ‘dunia’ yang dihindari oleh pengarang-pengarang yang merasa diri ‘mapan’. Dengan kata lain, puisi gelap, memang media ‘hanya untuk yang mau berpikir’.  [S. Jai]