Jumat, 03 Januari 2014

Realisme yang Bermula dari Problem Personal

Judul                   : Gadis Tiyingtali
Penulis                : Yuleng Ben Tallar
Penerbit              : Selasar publishing
Cetakan              :  I, 2012
Tebal                   :  viii + 220 Halaman
ISBN                    :  978-979-25-9433-1


ANDAIKATA kisah dalam novel ini difilmkan, barangkali judul yang menarik untuk diangkat kembali adalah Lukisan yang Tertunda. Film bergenre drama ini mungkin bisa diprediksi bakal disaksikan sejuta penonton (rekor yang lebih bagus ketimbang film Perahu Kertas).

Film Lukisan yang Tertunda, berkisah tentang gejolak batin perempuan bersuami (Ida Ayu Puspasari) yang diam-diam mencintai seorang pelukis (Ruspandi) yang pada suatu saat melukisnya di halaman pura desa Tiyingtali—pedalaman Bali. Bahwa penolakan cinta perempuan itu pada sang pelukis hanyalah kepura-puraan.


Selama puluhan tahun, kehidupan perempuan itu tak bahagia. Perempuan itu tetap membawa benih cintanya sekalipun tahun-tahun berlalu hingga melanglangbuana dalam ketidakbahagiaan. Perempuan itu betul-betul menderita, apalagi oleh suatu sebab dipisahkan dari putrinya (Rahma).

Dalam ketakbahagiaan itu, dalam kesendiriannya, perempuan itu masih terbawa arus memilih antara suaminya ataukah sang pelukis. Ketika sudah hampir putus asa, ia mencari suaminya—lelaki  penyebab ketidakbahagiaannya itu—di pedalaman Kalimantan. Tapi di sana yang ditemukannya hanyalah kubur suaminya yang baru dua minggu dikebumikan.

Di pedalaman itu, penderitaan Ida Ayu masih berlanjut. Ia berladang dari tanah garapan suaminya, walau tujuannya tinggallah sebiji saja; mengumpulkan bekal untuk pulang. Sampai suatu ketika ia berhasil mengumpulkan uang yang hanya cukup untuk perjalanan, maka dalam kepulangannya, diam-diam ia sekaligus mencari cinta sejatinya: sang pelukis.

Wanita itu masih membawa benih cintanya yang tetap tumbuh meski tentu saja kini bagaikan pohon yang kerontang. Sang pelukis penebar benih cinta itu tentu sudah tak muda lagi seperti ketika merayunya di halaman pura itu. Bahkan kini pelukis itu telah berkeluarga dan hidup bahagia.

Takdir yang getir masih terus mengampu pada Ida Ayu. Ia bisa menemukan sang pelukis, tapi tentu saja perjumpaan itu tidak dalam rupa-rupa pelukan mesra dan cium pipi kiri-kanan. Karena perempuan itu menemukan sang pelukis dengan perasaan hanyalah akan mengganggu kebahagiaan keluarganya.

Tapi keajaiban itu datang, karena istri sang pelukis berhati sangat mulia. Ia mengerti arti persahabatan, dan meringankan derita hidup Ida Ayu.
Begitu dalam memaknai persahabatan, sampai suatu ketika beberapa saat sebelum istri sang pelukis meninggal, ia berpesan agar wanita itu terus hidup mendampingi sang pelukis. Begitulah, istri sang pelukis ikhlas merawat benih cinta dari pohon kerontang yang perlahan lalu tumbuh kukuh (hal 212-215).

***
AKAN TETAPI novel Gadis Tiyingtali ini, tidak berkisah tentang penderitaan perempuan yang melarikan cintanya tersebut. Novel Yuleng Ben Tallar ini lebih bertutur tentang persahabatan tiga perempuan (Novie, Sandra dan Rahma) para broker lukisan—yang salah satunya adalah putri dari Ida Ayu, perempuan yang turut hilang ketika ibunya melarikan cinta sang pelukis. Ketiga perempuan tersebut adalah sejawat jaringan bisnis lukisan yang boleh jadi kerap terlibat ‘goreng-menggoreng’ lukisan (hal 147-155).

Dan sialnya, persahabatan dalam jaringan bisnis lukisan ini tak lain adalah kegiatan memitoskan lukisan atas nama uang. Juga memitoskan perihal keberuntungan. Pada definisi tertentu, secara ekstrem orang bisa mengkategorikan perilaku tokoh-tokoh novel ini musrik. Walau terlepas dari itu, pendidikan mereka yang tinggi dan berkelas yuppies (hal 84) lebih tepat jika dikatakan bersentuhan dengan grafik tanggungjawab etika-moralitas dalam bahasa Franz Magnis Suseno. Fungsi etika sebagai integrasi intelektual—sebagai makluk yang berpikir rasional, dapat mempertanggungjawabkan sikap-sikapnya terhadap perngalaman-pengalaman baru (Berfilsafat dari Konteks, hal 10)

Inilah saya kira simpul dari Gadis Tiyingtali ini sebagai sebuah kisah dengan sastra—tepatnya sebagai sebuah novel. Sastra yang baik adalah sastra yang membongkar mitos (walaupun dalam dirinya sekaligus menciptakan mitos baru), bukan sebaliknya justru mengukuhkannya. Ada idealisme yang bisa hadir di sana yang berhadapan dengan realisme.

Mitos-mitos itu begitu gamblang tampil pada novel Gadis Tiyingtali. Dengan kata lain ada ideologi yang tampil di sana, karena mitos kemunculannya senantiasa disokong ideologi, alias pesan. Meski semua hal berpotensi menjadi mitos. Mitos tidak didefinisikan oleh objek pesannya tetapi oleh caranya menyatakan pesan tersebut. Tidak ada batas subtansinya, karena semua hal bisa menjadi mitos (Roland Barthes). Dan ideologi itu adalah pasar, uang.

***

NOVEL atau setidaknya karya yang dimaksudkan sebagai sebuah novel adalah karya sastra. Oleh karena itu novel yang ditulis dalam bahasa Indonesia suka atau tidak suka musti ditempatkan dalam konteks sastra Indonesia. Demikian pula pada Gadis Tiyingtali ini yang ditulis dengan bahasa yang sangat baik. Dalam arti, bahasa yang efektif, hemat, jelas, lugas, lancar: Sebuah ciri-ciri bahasa yang biasa digunakan dalam dunia jurnalistik.

Tidak heran, karena memang  Yuleng bertahun-tahun bergulat dan bergelut sebagai wartawan. Walaupun, sudah barangtentu penting menimbang jawaban pertanyaan apakah pentingnya bahasa jurnalistik dalam sastra, atau sebaliknya apakah pentingnya sastra dalam jurnalistik. Novel-novel Ahmad Tohari atau karya-karya Pramodya Ananta Toer menjadi referensi penting para jurnalis. Sebaliknya, di satu sisi, kedua sastrawan ini adalah wartawan. Di lain sisinya lagi, banyak juga wartawan yang sastrawan.

Menempatkan Gadis Tiyingtali dalam ranah sastra Indonesia adalah suatu keharusan karena karya ini dimaksudkan sebagai sebuah novel. Lebih tepatnya novel bercorak realisme yang di dalam kontek sejarah sastra realisme selalu membungkus dirinya dengan pesan moral—saya lebih suka menterjemahkan etika, moralitas dalam definisi Franz Magnis.

Termasuk realisme dalam sastra Indonesia. Walau, tentu saja realisme dalam sastra kita mengalir dari Eropa (Inggris, Belanda, Prancis dan Rusia). Bahwa kata kunci dari sastra realisme selain moralitas adalah masyarakat, dan simpul keduanya adalah etika masyarakat. Yaitu pertanggungjawaban intelektual kepada masyarakat. Contoh terbaik sastra ini adalah novel Oliver Twist, dari Charles Dickens, gambaran reaksi atas dampak kemiskinan dari revolusi industri. Lalu Les Miserables, dari Victor Hugo lukisan di atas kenyataan sehari-hari sikap romantisme hadirnya kekuatan ilahi dari manusia yang berwatak santo pada kemiskinan, di seberang kekuasaan kebangsawanan yang berujung revolusi Perancis.

Di Indonesia, novel Manusia Bebas, karya Soewarsih Djojopoespito sebagai gambaran idealisme aktivis sosial tokoh Sulastri dan Sudarmo. Lalu realisme karya-karya Pramoedya Ananta Toer, juga Idrus yang menerjemahkan realisme-naturalnya dalam Surabaya itu.

***
SAYANGNYA,  di negeri ini “konsepsi internasionalisme sebagai estetika modernis eropa yang dibawa kelompok Chairil Anwar menenggelamkan marka realisme. Tanggungjawab individual, personal, kemudian ditambah dengan eksistensialisme (Sartre) mengalir ke mana-mana, termasuk mempengaruhi novel-novel. Novel-novel ekstase subjektif Iwan Simatupang dan Budi Darma berada di garis ini.

Pada konteks sastra Indonesia, saya kira Gadis Tiyingtali berada di ruang ini karena ia sebetulnya bukanlah realisme yang membawa moralitas atau etika masyarakat tertentu, melainkan problem personal. Lebih tepatnya dokumentasi personal, sehingga cenderung abai pada masyarakatnya, setidaknya pada pembacanya. Gadis Tiyingtali sebangun dengan Ziarah atau Olenka. Yang membedakannya pada Ziarah dan Olenka pengarang mengeksplorasi habis-habisan sampai pada hal yang tidak mungkin atas sisi psikologis tokoh (imajinasi, persepsi, intuisi, interpretasi) yang mengukuhkan sebagai novel yang bukan realis. 

 Sementara pengarang Gadis Tiyingtali lebih memilih mencatat detil-detil peristiwa dan disiplin realisme dalam pengertian fakta 5 W + 1 H (peristiwa, sebab, akibat, manusia, tempat, waktu dan kronologi kejadian). Pengarang memilih keukeuh berdiri di dua kaki: fakta dan personal. Barangkali ini hal baru. Jika realisme dan internasionalisme hingga kini terus bertikai, lantas bagaimana dengan fakta jurnalistik dan personal-individual?

Boleh jadi Yuleng bermaksud menampilkan aspek puitik (model Chairil Anwar) ke dalam novel karyanya yang sudah mengurung diri dalam kelugasan bahasa jurnalistik tersebut. Yang kemudian diperkuat dengan pilihan sub tema ‘misteri lukisan mebanten.’ Bukankah esensi dari sebuah lukisan serupa dengan puisi: sebagai sebuah karya?

Itulah sebabnya, saya kira, mengapa justru peluang untuk menggarap sisi eksotis dari setting ekonomi, sosial, novel ini tidak digarap pengarang. Madura. Surabaya. Argopura. Desa Tiyingtali. Ia tidak ingin terjebak dalam dunia semacam Laskar Pelangi. Dugaan saya oleh karena pengarang demikian memuja dan memitoskan lukisan, dan bukan pemuja eksotisme alam atau menu masakan. Mitos itu begitu kuatnya, sehingga terungkap bahwa semua lukisan memiliki misteri. Dengan kata lain, sebetulnya pengarang menciderai kerangka pikirannya sendiri atas novel dari tokoh-tokoh ciptaannya. Seolah pengarang menjadi bagian dari jaringan broker lukisan bersama tokoh-tokoh ciptaannya.

Yang menarik bagi saya, selain usaha pengarang menggabungkan fakta jurnalistik dan personal-individual ini, tak ada pretensi pengarang menjual novel ini untuk diproduksi masal di pasar. Tanda-tanda itu tidak tampak dalam Gadis Tiyingtali. Yang nampak adalah ia sedang berjuang menaklukkan tulisan jurnalistik paling menyentuh (feature—yang tentu saja untuk pembaca media) untuk bisa mendokumentasikan pengalaman manusia paling dalam: kepercayaan pada Tuhan, mitos, takdir, keberuntungan serta kerinduannya pada masa depan atau masa lalu.

Sampai di sini novel ini berhasil, atau kisah ini berhasil sebagai sebuah novel. Walaupun kurangnya mempertimbangkan kepentingan pembaca, ia mirip dengan tabiat puisi: untuk dirinya sendiri. Lebih dari itu, jika pengarang sadar, sebagai sebuah strategi, novel ini sekaligus model baru untuk menyihir para pembacanya untuk mengagumi, memitoskan dan melambungkan harga jual karya tertentu—lukisan. Cuma yang terakhir ini tentu saja: pikiran bisnis.[S.Jai]